latest Post

Mengunjungi Kawasan Wisata Bromo di Akhir Semester

Hello..

Yes! Akhirnya tulisanku nambah lagi dan akhirnya semester 5 sudah berakhir. Welcome J

Disini aku bakal cerita tentang pengalaman pertamaku mengunjungi tempat wisata paling indah yang ada di Jawa Timur. Bromooo!!

Tapi sebelum itu.. Aku akan sedikit menceritakan duka-dukaku selama semester 5 ini, hingga pada akhirnya, aku bisa tersenyum lepas dan bisa menikmati indahnya hidup yang sesungguhnya, tanpa tugas dan tanpa dikejar deadline. Aman!

Di semester 5 kemaren ini bisa dibilang adalah semester yang riweh dan bikin pusing dibandingkan semester-semester sebelumnya. Target mempertahankan IPK pun menjadi salah satunya, kalo bisa sih nambah. Memang IPK bukanlah segalanya, tapi mempertahankan IPK minimal tiga koma kan juga diperlukan. Kalo IPK jeblok, SKS yang diambil pun juga ikutan jeblok. Jadinya ntar malah ngga bisa ngambil mata kuliah yang seharusnya diambil di semester selanjutnya. Istilahnya, cari aman.

Saking susahnya untuk berjuang di semester ini, aku yang hanya sebagai manusia biasa, bisanya cuma mengeluh sana sini. Ini contohnya:

‘Duh.. Lama banget sih nih tugas ngga kelar-kelar.’

‘Duh.. Ini kapan idenya muncul sih? udah jam 2 pagi nih.’

(cek jadwal) ‘Yah.. Besok ada kuliah pagi banget. Mana belum kelar lagi tugasnya.’

(cek jam) ‘Duh.. Udah jam segini. Kalo kurang tidur, gimana aku bisa fokus berangkat ke kampus? Ya.. takut aja gitu.. yang seharusnya ke kampus malah jadinya belok ke mall. Saking ngantuknya.’

Dikejar deadline sudah menjadi sebuah rutinitas. Mengandalkan 'the power of  kepepet' pun juga jadi jurus andalan di semester ini. Kacau banget dah pokoknya semester ini. Bukan aku aja sih yang kacau. Temen-temenku juga mengalami hal serupa. Salah satunya anak kos. Mereka jadi sering telat. Padahal jarak dari kosan ke kampus cuma 5 menitan kalo jalan kaki. Entah apa yang membuat mereka seperti itu. Yang pasti, yang bisa aku simpulkan dari diriku untuk sementara ini adalah: aku masih belum bisa mengatur waktu dengan baik, dan aku juga masih belum bisa mengatur keuangan dengan baik. Gimana bisa jadi istri idaman kalo gini ceritanya? Hmm.

Sebagai manusia biasa yang banyak kekurangan, aku selalu mengeluh ini itu. Tapi aku juga sadar, mengeluh terus-terusan juga memang ngga ada gunanya. Semua tugas ini memang harus dikerjakan. Presentasi, tugas kelompok, bikin silabus, bikin RPP, bikin soal, proposal penelitian, research statistic, bikin buku ajar, dan tugas akhir pun harus dijalani dengan semestinya dan sesuai dengan deadline yang ada. That was an awesome struggle!

Fyuh! Setelah menjalaninya dengan susah payah, akhirnya ngga berasa udah di penghujung semester 5. Ini nih yang aku suka. Jalan-jalaaaannn!!

Eits! Tunggu. Tapi ini bukan jalan-jalan ala backpacker gitu. Ini masih sepaket sama salah satu mata kuliah di semester ini. Iya, jalan-jalan ini masih berhubungan sama tugas akhir yang memang mengharuskan mahasiswanya untuk mengunjungi suatu kawasan yang bisa diteliti budayanya, karena mata kuliah ini memang berhubungan dengan pemahaman antar budaya. Objek wisata yang akan dikunjungi adalah kawasan wisata Bromo.

Tugas akhir dari mata kuliah ini adalah membuat laporan berbentuk artikel yang membahas tentang budaya yang ada di kawasan wisata Bromo ini. Boleh bahas tentang masyarakat pribuminya, bahasanya, tradisinya, dan lain-lain. Dan diharapkan setelah pulang dari Bromo, tugas itu sudah selesai dan tinggal submit  ke dosen.

Hari keberangkatan semakin dekat. Jauh-jauh hari aku sudah mempersiapkan segalanya. Denger-denger sih disana bakal dingin banget. Aku sudah siap jaket, sarung tangan dan juga kaos kaki untuk penghangatku disana nanti. Denger-denger juga disana lagi musim hujan. Ngga peduli tasku berat atau engga, aku bawa payung dan jas hujan buat jaga-jaga. Siapa tau dibutuhkan. Aku juga sedikit mencari-cari info tentang kawasan wisata Bromo di Google. Salah satu yang aku temukan adalah mengenai bahasa yang digunakan sehari-hari.

Ternyata penduduk pribumi Tengger (suku yang ada di kawasan Bromo) sehari-harinya memakai bahasa Jawa ngapak  alian bahasa Jawa Banyumasan yang biasa kita temui di daerah Jawa Tengah, seperti di daerah banyumas dan sekitarnya. Sempet heran juga, kok bisa bahasa dari Jawa Tengah bisa nyampe ke kawasan Bromo ini?

---

Hari H pun tiba. Setelah asar, bis pun berangkat dari kampus. Ada 3 bis dan satu ELF yang membawa rombongan mahasiswa ini menuju Bromo. Aku berada di salah satu bis tersebut. Selama perjalanan, aku cuma menikmati jalanan aja, ngga tau arah dan jalan. Temen-temen di bis pada sibuk karaokean dan joget-joget gitu. Aku ngga seberapa peduli. Yang aku tau pasti, kita semua nanti bakal mampir ke rumah makan buat makan malam. Oh, aku inget. Kayaknya jalur yang dilewati adalah jalur Pasuruan – Probolinggo. Kalo nggak salah sih.

Beberapa jam kemudian, langit sudah berubah gelap. Hujan rintik-rintik mengguyur membasahi jalanan yang dilewati bis ini. Nggak lama kemudian, sampailah di rumah makan yang berada di kawasan Pasuruan.

Temen-temen pada berbondong-bondong ke toilet. Aku sama temen sekursiku langsung ke dalem rumah makan untuk menyantap makan malam. Kali ini prasmanan. Jadi bisa ambil sepuasnya. Tapi ‘porsi sepuasnya cewek’ sama ‘porsi sepuasnya cowok’ itu beda lho ya. Catat itu.

Naluri kenarsisan kami pun keluar. Apapun yang terjadi, pokoknya harus diabadikan. Entah pas makan, atau pas nungguin bis berangkat. 


Bis pun akhirnya melanjutkan perjalanan. Kali ini hujannya semakin deras. Air hujan pun terlihat mengalir deras di kaca bis. Sesekali ada kilatan petir yang nampak dibalik gelapnya langit malam. Ternyata perjalanan masih lama. Yang sebelumnya temen-temen pada karaokean dangdutan, sekarang tiba-tiba beralih jadi sholawatan bersama. Memang, jalanan mulai naik. Jalanan mulai berkelok-kelok dan curam. Jadi, kewaspadaan pun diperlukan. Terutama bapak Sopir. Bapak Sopir pun sekarang mengemudikan bisnya dengan sangat hati-hati. 


Beberapa jam kemudian, akhirnya perjalanan pun terhenti di sebuah terminal kecil. Memang sudah waktunya berhenti sih, tapi belum sampai tujuan. Disini memang pemberhentian terakhir bis. Aku lupa nama terminalnya apa. Karena memang perjalanan selanjutnya udah ngga bisa dilalui bis besar, dan harus oper sama ELF atau mobil biasa. Entah apa yang ada di benak teman-teman, padahal udah ada aba-aba dari kondektur bis,

‘Ayok, siapa yang mau turun duluan. Udah waktunya oper nih.’

Ternyata nggak ada respon. Ya udah, aku sama ketiga temenku langsung inisiatif turun duluan. Sembari mengecek bawaan, takut ada yang tertinggal, aku juga ngambil payung. Karena diluar lagi hujan deres banget.

Ada satu mobil yang sudah menanti di luar. Langsung deh cap cus masuk ke dalam mobil. Sedikit basah-basahan juga karena memang hujannya deres banget. Pake payung pun masih aja kena air. Dan udara pun mulai dingin.

Di perjalanan, hujan dan kabut menemani kita. Jalanan juga curam, tebing curam, jalanan berkelok-kelok dan naik-turun. Alhamdulillah aku ngga takut-takut amat melihat jalanan yang seperti ini. Karena sebelumnya udah pernah melewati jalanan yang kurang lebih sama seperti ini.

Homestay kita ternyata masih berada di jalanan yang masih ke atas lagi. Pas sampe di depan gapura bertuliskan ‘kawasan wisata Bromo’, pak supir menghentikan mobilnya. Ada beberapa lelaki memakai sarung, penutup kepala dan sepatu anti air yang biasa dipake orang-orang pas lagi banjir (duh, lupa namanya). Sepertinya pak supir sedang meminta ijin atau kurang lebih seperti membayar retribusi di penjaga gapura masuk kawasan wisata Bromo. Setelah selesai, mobil pun naik ke atas.

Daaan, sampai deh. Di homestay dimana kita akan menginap. Begitu buka pintu mobil, brrrr! Dingin bro! Dan asiknya, kalo kita lagi ngobrol atau bernafas, bakal ada asap keluar dari mulut dan hidung kita. Keren! Ini baru pertama kalinya aku mengalami kejadian yang seperti ini. Berasa kayak di luar negeri deh. Kita pun langsung beristirahat, men-charge  energi untuk esok hari.

Air disini seperti air freezer. Nyentuh kulit dikit rasanya langsung mati rasa. Saking dinginnya. Tidur pun masih belum nyenyak di hari pertama aku menginap di homestay  ini. Padahal udah di dalem kamar, tapi udaranya dingin banget. Aku sampe menggigil. Tidur pun aku pake jaket, pake selimut, pake kaos tangan dan pake kaos kaki. Menyentuh lantai pun rasanya enggan, saking dinginnya.

---

SELAMAT PAGI DARI BROMO! Kawasan wisata Bromo maksudnya :D

Pemandangan di belakang homestay
Hari ini jadwalnya langsung menggali informasi-informasi yang berhubungan dengan budaya orang Tengger. Aku dan teman-teman sekelompok mengambil tema garis besarnya tentang ‘Macro Culture’. Jadi yang diambil adalah budaya secara general dan nggak terlalu spesifik. Bahasa, budaya, dan lain-lain bisa masuk di tema ini. Tapi sebelum itu, kami mau nyari warung dulu. Ngopi bentar apa salahnya sih? Kan masih jam 6 pagi :D

Pemandangan yang nampak dari warung. Btw, homestay kita ada dibawah situ tuh.
Setelah ngopi-ngopi cantik, kami langsung cuss untuk menggali informasi tentang budaya suku Tengger. Pertama-tama yang harus dilakukan adalah mencari narasumber. Dan, salah satu narasumbernya adalah si mbah ini:


Aku lupa nama mbahnya siapa. Pengennya sih kita mewawancarai si mbah sambil duduk-duduk nyantai gitu, tapi sedikit ada kendala. Si mbah memang lagi kerja, jadi cuma ada sedikit waktu untuk kita wawancarai. Kendala selanjutnya adalah si mbah nggak bisa menggunakan bahasa Indonesia untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan kami. Yang ada, si mbah malah ngajak ngomong kita pake bahasa Banyumasan. Temen-temen pada nggak ngeh sama apa yang si mbah katakan. Untungnya, aku bisa memahami apa yang si mbah katakan, karena bapakku asli Banyumas, kurang lebih aku bisa memahaminya. Tapi kalo ngomong pake bahasa Banyumasan, aku memang masih belepotan dan nggak bisa lancar. Terkadang apa yang pengen ditanyain temenku, trus aku translate ke bahasa Banyumasan, aku juga rada bingung-bingung gitu.

Tenyata si mbah adalah peternak. Setiap paginya, si mbah selalu mencari rumput untuk sapi dan kudanya. Ngga tanggung-tanggung, si mbah mencari rumput kurang lebih sebanyak 2 sak per hari bahkan lebih, jika si mbah masih kuat tenaganya. Sebenernya ngga tega ngeliat si mbah gendong rumput sebanyak itu. Tapi si mbah senang menjalani rutinitas ini.

Bukan hanya mencari rumput, si mbah juga setiap harinya bercocok tanam. Memacul lahan untuk ditanami sayur-sayuran, salah satunya daun bawang. Kata si mbah, penduduk asli tengger, baik itu laki-laki atau perempuan harus bekerja. Ternyata disini nggak mengenal perbedaan gender. Laki-laki dan perempuan dianggap sama.

Setelah mendapatkan informasi sebagai bahan laporan tugas akhir, aku dan teman-teman mencoba menjelajah tempat ini. Mumpung masih ada waktu free. Seperti biasa, kenarsisan kami selalu muncul disaat seperti ini. Ini ada beberapa foto yang kita ambil dari kawasan wisata suku Tengger:

Di sekitar kawasan tempat peribadatan orang Tengger
Seperti di atas awan

Pohon kayak gini ngga ada di Sidoarjo
Oh iya, FYI, disini semua penduduk asli Tengger beragama Hindu. Jadi, disini nggak ada masjid. Yang ada hanya tempat peribadatan mereka saja. Kalo pengen tau, coba kalian dengerin sekitar jam 5 pagi. Pasti ada kayak suara-suara puji-pujian, karena mereka sedang bersembahyang.

Ciri khas masyarakat Tengger bisa kita perhatikan dari penampilannya. Yang laki-laki memakai sarung dan sepatu. Yang perempuan memakai jarik (kain untuk gendongan). Masyarakat Tengger juga orangnya ramah-ramah. Saling menghargai dan menghormati satu sama lain, meskipun kita berbeda agama dan berbeda suku. Dan juga disini 0% tingkat kejahatannya. Jadi, di kampung Tengger ini bener-bener aman terkendali. Salut!


 

---

Esoknya, sebelum balik ke Surabaya, kami disini diberi kesempatan untuk mengunjungi tempat wisata Bromo. Yeaah! Akhirnyaaa liburaaaann!!

Oh iya, nggak usah khawatir untuk akomodasi. Disini banyak masyarakat Tengger menyewakan mobil jeep­-nya. Kita semua menyewa jeep. Satu jeep diisi 8 orang. Tujuan kita adalah ke kawasan pasir berbisik dan kawah Bromo. Meski nggak naik ke puncak gunungnya, ngga apa lah. Enjoy~



Kita diturunkan di kawasan berpasir ini. Mobil jeep-nya bakal nungguin kita sampe kita selesai menikmati ini semua. Dan, ya! Saatnya berpose:

Pake kaos Blogger Energy, biar keren.

Hati-hati kalo lagi berpose di kawasan berpasir ini. Berwaspadalah. Karena sewaktu-waktu bakal ada angin yang membawa material-material pasir halus ini. Kalo ngga hati-hati, bakal kelilipan. Makanya, harus sedia masker.

Tujuan selanjutnya.. Kawah Bromo!

Perjalanan menuju ke kawah cukup WOW. Jalanannya nanjak dan berpasir. Bikin capek. Aku jadi sering dikit-dikit berhenti karena kecapekan. Kalo pengen ngerasain sensasinya, ya jalan kaki aja. Bagi yang bener-bener nggak kuat nanjak, bisa nyewa kuda.

Akhirnya rasa lelah pun terbayarkan sudah. Jalanan nanjak pun sudah berakhir. Tapi masih belum sampai disitu aja. Kita harus berjalan menaiki ratusan anak tangga. Disini sudah mulai semakin dingin. Mumpung ada orang jualan syal, beli aja deh. Takut ntar pas diatas nanti, aku kedinginan.

Butuh waktu untuk bisa melalui anak tangga ini. Nafasku jadi tersengal-sengal. Aku jadi dikit-dikit istirahat karena emang ngga kuat. Tapi, optimis harus bisa sampai puncak! Aku pengen melihat indahnya kawah Bromo.

Yeaaahh!! Sampai sudah. Ini nih penampakannya:


   

That was an awesome journey! Mulai dari berjuang bikin tugas, sampai pada akhirnya... bisa menikmati keindahan alam. Aku hanya bisa mengucap syukur atas semua ini. Semoga di semester 6, aku bisa jadi manusia yang lebih baik lagi dan tidak mudah mengeluh. Amiinn..

About Isnanur Utami

Isnanur Utami
Recommended Posts × +

17 Komentar:

  1. IPK itu penting, tapi tergantung pemikiran juga pentingnya buat apa..
    Wah.. suku Tengger ngapak ya? Hehe..
    Asyik juga tuh jalan-jalannya. Jadi pengen deh.
    Salam dari http://erlisy.wordpress.com/

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tergantung individu masing2, ada yang nganggep penting, ada yang nganggep ngga penting.

      Iya, dan terbukti logatnya sama persis kayak orang Banyumas, Jawa Tengah.
      Kalo ada waktu, coba aja kesana. Hehe. Siapa tauu :D

      salam kenal yaa

      Delete
    2. Iya sih, soalnya terkadang ada yang mati-matian dapetin IPK tinggi, ada yang dengan mudahnya dapetin IPK tinggi. Kembali ke individu, ya. Tergantung kemampuan.
      Waah. Begitu ya...
      Salam kenal. :)

      Delete
  2. Jadi pingin kesana.. sepertinya baru pertama disini salam kenal ya..

    ReplyDelete
    Replies
    1. bukan cuma pemandangan, tapi nilai budayanya juga menambah nilai + kawasan wisata Bromo ini..

      haii salam kenal yaa..

      Delete
  3. paling jauh saya jalan2 cuma ketempat mainstream aj
    kaya Dufan ancol dsbnya
    tpi dulu perna ngerasaiin liburan ke tempat2 gtu memang asik walaupun capenya luar biasa heee

    ReplyDelete
    Replies
    1. lah aku malah pengen tuh ke Dufan atau Ancol. Soalnya udah segede gini masih belum pernah kesana. Maklum, jauuhh :D

      Delete
  4. "Apapun IPK-nya, yang penting Cara membawa dirinya. Heru arya"

    Ah... Liburan lagi. Gue entah kapan bisa jalan ke bromo. Sekarang lagi betapa ngurusin penelitian. Jujur, gue iri banget, pengen ke sana. Tapi entah kapan gue bisa ke sana.

    Temen2 lu seru, lu juga jelas seneng banget. Bisa jalan2 ke wisata bromo. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sipp.
      Kalo penelitian udah kelar bang, siapa tau ada yang ngajakin ke Bromo. Hihi

      Delete
  5. Liburan itu emang paling enak kalau semua kerjaan udah beres, jadi gak ada beban gitu, gak mikirin tugas dll hhe

    Pengen sih ke bromo juga, tapi jauhhhh banget hhe

    Btw ini kunjungan pertama, salam kenal ya

    ReplyDelete
    Replies
    1. iyaa dan itu bikin lega bangeett :D

      barangkali ada kesempatan. siapa tauu..

      eh iya, salam kenal juga yaa

      Delete
  6. Kalo mampir ke blog dan baca postingan tentang liburan, jadi pengen liburan :'D

    Liburan sehabis tersiksa dengan semester 5 yang sangat menyibukan, afdol banget liburannya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. pengennya sih yang ala2 backpacker gitu. tapi ya bisanya pas gara2 tugas kuliah ini. lumayan.. bisa menikmati keindahannya :)

      Delete
  7. Wah asik juga yahan Nugas sambil liburan.. Btw, foto pake kaos BEnya ajip bener dah haha..

    Tingkat kejahatan nol!

    Gue lagi ngebayangin kalau hal tersebut terjadi di seluruh wilayah pelosok indonesia. Aman kayaknya indonesia ini kalo kayak gitu..

    ReplyDelete
  8. keren juga nih.... cie.... Blogger Energy nih... hemz....
    salam kenal Mbah Isnanur Utami

    ReplyDelete
  9. Destinasi idaman nih ke bromo aku juga pingin abisss...jadinya happy ending dong. Sama. Dulu aku juga banyak ngeluh,yg tugaslah presentasilah, skripsii, interview dll. Tpi bgtu tali toganya dipindahin sama dekan, beuhhh itu semua jerih payahlngsung sirna dan rasanya pgn sujud saat itu jga saking snengnya..every single effort will pay off kok, just do your best!

    ReplyDelete
  10. Waaaa seruuu~ enaknya liburan akhir semesternya ke Bromo. Aku belum pernaaah XD Duh! padahal akhir semester kemaren aku juga uda liburan ke Jateng.
    Btw, ini pertama kali aku blogwalk d blog kamu, Isna. Eh kpn2 ketemuan yuk di kampus :)) jd penasaran sm kamu, kita sm2 introvert nih ceritanya :p

    ReplyDelete