latest Post

Terpuruk Dalam Kecemasanku

Sudah berkali-kali aku merasakan fase-fase kecemasan di dalam hidupku. Cemas dan takut. Dua hal itulah yang mengganggu pikiranku kalo aku lagi mencemaskan sesuatu. Mungkin aku memang orangnya suka mikir terlalu panjang ke depan dan memikirkan resiko-resiko yang akan terjadi ke depan secara berlebihan kali ya, jadinya kayak gini. Aku akan menceritakannya satu per satu.

Saat jaman sekolah dulu:

Waktu masih di bangku sekolah dasar, orang tuaku menginginkanku masuk ke sekolah yang harus sekolah negeri. Alasannya, karena faktor ekonomi. Memang, pada saat itu, faktor ekonomi menjadi hal yang memberatkan beliau. Bukannya apa-apa, tapi aku.. Aku ngga pinter, aku ngga pernah dapet nilai sempurna. Aku sendiri tau kemampuanku sejauh mana. Dari track record yang didapat, nilaiku semua standar, bahkan ada yang di bawah standar. Ngga heran kalo aku kurang setuju dengan keinginan beliau. Kalo anak pada normalnya sih, seharusnya si anak belajar abis-abisan agar ngga ngecewain orang tua. Tapi, sudut padangku beda dengan anak normal pada umumnya. Aku malah menyalahkan cara orang tuaku yang menurutku, itu salah.

Bukannya sok bener atau apa. Tapi, saat itu, aku merasa orang tuaku masih belum bisa memahami anaknya seutuhnya. Sama sekali beliau tidak mengarahkan, tidak mendukung, bahkan tidak mengerti kemampuan atau potensi si anak ini kemana. Ya masih seumur gitu, aku sih menjalaninya mengalir banget. Ngga pernah ada mencoba sesuatu hal yang baru. Potensi yang aku sendiri bener-bener rasakan saat aku di bangku sekolah dasar itu: sukanya maen game (waktu itu masih nintendo, paling bagus PS 1), sama bikin kayak miniatur rumah-rumahan (kalo anak arsitektur sih bilangnya “maket”) dari kertas.

Menginjak ke SMP, aku juga dituntut untuk bisa melanjutkan ke SMA negeri. Alhamdulillah, saat itu aku masuk SMP Negeri, meski pinggiran tapi lumayan lah. Bayangkan, orang tuaku lagi-lagi ngga pernah mengarahkan potensiku. Malah aku harus berusaha susah payah untuk mencari-cari sendiri, sebenarnya potensi dan bakatku ini apa. Waktu itu, potensi yang muncul adalah: bisa main piano, tapi ngga pake melodi, cuma DO RE MI FA SOL LA SI DO nya aja. Kan dulu aku kenalnya kalo DO itu 1, RE itu 2, MI itu 3, dan seterusnya. Kalo lagu Are you sleeping pasti nadanya bakal 1 2 3 1 1 2 3 1 3 4 5 3 4 5, dan seterusnya. Nah, waktu itu aku bisa ngira-ngira sendiri nadanya. Jadi mencetinnya ya sesuai nada lagunya. Kurang lebih seperti itu.

Potensi lain saat aku masih SMP adalah menulis, tapi menulis dalam skala catatan harian alias diary. Ceritanya, waktu masa orientasi siswa (MOS) dulu, kakak-kakak OSIS bakal ngasih hadiah di hari terakhir. Ada beberapa kategori yang dimasukkan, salah satunya kategori anak yang paling nurut dan diam. Aku termasuk satu-satunya yang dapet di kategori itu. Hadiahnya ngga lain dan ngga bukan adalah sebuah buku diary bersampul hijau. Aku masih inget banget. Dari situlah, kecintaanku menulis tumbuh, hingga sekarang.

Ada lagi nih potensi yang terlihat. Kali ini di bidang akademik, yaitu Bahasa Inggris dan Teknologi Informasi & Komunikasi (TIK). Dua mata pelajaran itu udah bener-bener favorit. Aku suka mempelajarinya dan memperdalaminya. Seperti bahasa Inggris, aku suka sekali mencari vocabulary yang sulit ke dalam kamus. Lalu saat pelajaran TIK, aku sangat bersemangat untuk berada di lab komputer. Bahkan, materi yang ada di buku pelajaran, sebelumnya sudah aku coba duluan di komputer yang ada di rumah, bahkan sampe bab terakhir. Padahal pertemuan kelasnya masih awal-awal banget pada saat itu. Disinilah, pertama kalinya aku kenal dengan yang namanya Blog.

Di kedua mata pelajaran itulah, aku membuktikan kalo aku bisa dapet nilai bagus. Yah, meski pelajaran lainnya nilainya standar semua, bahkan ada yang di bawah standar. Namun, hanya itulah cara yang bisa aku lakukan untuk membuktikan bahwa aku juga bisa dapet nilai bagus, meski ngga diiringi dengan prestasi sejenis mengikuti perlombaan, dan sejenisnya. Iya ya, kenapa dulu aku ngga ikutan lomba-lomba atau kompetisi gitu ya? Dulu pas jamanku sih lebih seringnya kompetisi atau lomba untuk non-akademik sih. Jadi, kalo akademik kurang dilirik gitu sama gurunya.

Pas jaman SMA, ngga ada potensi yang nambah. Apalagi aku masuk di SMA swasta. Ya potensinya masih itu-itu aja. Disinilah aku mulai untuk mencoba hal-hal baru, seperti belajar main gitar. Tapi bisanya cuma chord dasar aja sih, selebihnya masih belum bisa. Kalo mau latihan, aku pasti bakal cari lagu yang chord nya ngga susah, baru aku mainkan.

Tapi, di SMA ini, aku melakukan pencapaian tertinggiku, yaitu mewakili anak kelas 12 untuk berpidato dalam Bahasa Inggris saat wisuda. Bukannya apa-apa, tapi menurutku itulah pencapaian tertinggi yang aku raih pas jaman sekolah dulu. Mungkin pas saat pidato, para orang tua ngga ada yang mudeng dan ngga ada yang paham kali ya, jadi pas pidato, tatapan para orang tua itu dingin banget. Sesekali raut wajahnya menunjukkan kalo seolah-olah mereka ingin bilang, “ngomong apa sih ini anak?” Tapi aku bisa menyampaikannya dengan lancar. Dan aku seneng bangeeet, pada saat itu.

Apa kabar pas jaman kuliah?

Hahaha. Aku hanya bisa tertawa saja menghadapi kenyataan ini. Aku hanyalah seorang mahasiswa kupu-kupu, yang kalo udah ngga ada jam kuliah, langsung balik ke rumah. Aku sama sekali ngga mengikuti organisasi di kampus, tapi untungnya aku mengikuti satu organisasi berbasis keislaman di kotaku. Jadi, seenggaknya ada lah pengalaman organisasi, meski hanya satu aja yang aku ikuti. Intinya, aku ngga memiliki potensi baru selama kuliah ini.

Entahlah, meskipun aku orangnya begitu adanya, tapi aku menargetkan suatu hal yang mungkin orang lain pasti mikir, “buat apa?” tapi bagiku ini penting, terlebih dengan kepribadianku yang seorang Introvert, yaitu aku menargetkan diriku sendiri untuk setidaknya dalam setahun, minimal aku bisa berkenalan dengan satu teman baru. Sempet frustasi juga di tahun kedua aku kuliah, karena di tahun kedua, aku belum juga bisa mendapatkan teman baru. Tahun pertama sih sudah, kan udah kenalan sama temen baru satu jurusan.

Dari ke-frustasi-anku itulah, aku mencoba cari-cari komunitas gitu di Google, kira-kira komunitas apa yang cocok sama aku, sampai akhirnya bertemulah aku dengan komunitas Blogger Energy. Blogger Energy adalah komunitas pertama yang aku ikuti selama hidupku, bahkan satu-satunya komunitas blogger personal yang aku ikuti. Nah, dari Blogger Energy-lah, targetku untuk bisa kenal orang bisa aku capai, dengan mengikuti beberapa kopdar yang pernah diselenggarakan. Aku bangga jadi bagian keluarga Blogger Energy.

Lalu apa yang menjadi kecemasanku saat ini?

Aku sekarang udah semester akhir. Entah kenapa aku semakin kesini kok ngga ada semangat sama sekali untuk menyelesaikan ini. Padahal tinggal skripsi aja, ngga ada mata kuliah yang ngulang. Entahlah.. Aku ngga punya semangat untuk ini. Dari dulu sampe sekarang masih aja di tahap proposal. Awalnya sih ngga males, cuma karena dosen pembimbing yang menyuruhku untuk mencari teori yang banyak dan kuat, aku terpaksa menunda mengerjakannya. Sudah beberapa kali aku bolak-balik bertemu untuk konsultasi, namun jawabannya masih sama, “Teorimu kurang kuat. Cari lagi ya.”

Rasanya aku masih lelah setelah mengalami kejadian seperti itu selama beberapa minggu ini. Aku masih belum mau melanjutkannya. Terlebih lagi waktu bertemuku dengan dosen pembimbing yang hanya seminggu dua kali. Betapa sia-sianya waktuku terbuang untuk menunggu hari H bertemu dengan dosen pembimbing. Dan juga, perlakuan temenku yang seperti debt collector, aku terus dikejar-kejar dan ditagih dengan omongan yang sama tiap kali ketemu, “Proposalmu gimana? Ayo cepetan dikelarin, biar bisa sidang proposal.” Iya sih, situ memang sudah sidang proposal, tapi ya ngga usah terlalu maksain gitu kali. Woles!

Terkesan seperti aku ini orang yang egois dan seenaknya sendiri bukan? Suwer! aku asli ngga kayak gini orangnya. Untuk saat ini, aku merasa aku bukanlah diriku yang biasanya.

Lalu, aku terlalu cemas akan apa yang akan terjadi padaku nantinya. Aku terlalu cemas dengan nasibku sebagai seorang mahasiswa kupu-kupu (kuliah-pulang-kuliah-pulang) dalam mencari pekerjaan nantinya. Pengalaman organisasi? Cuma satu. Pengalaman magang? Pernah sekali, magang jadi guru di sekolah. Pengalaman lain seperti relawan? Ada sih, ngajar anak-anak jalanan di salah satu taman di Surabaya. Ada lagi? NGGAK ADA!

Kalo pengalamanku sedikit, pekerjaan apa yang bisa aku dapatkan nantinya ya? Apa aku bisa dapet pekerjaan yang sesuai dengan passion-ku? Semacam di bidang tulis menulis, atau pekerjaan yang suka menghabiskan waktu dengan komputer atau laptop? Entahlah. Tapi, saat aku mendengar cerita temenku tentang kakak sepupunya yang udah lama menganggur sejak lulus kuliah hanya karena pekerjaannya ngga sesuai dengan apa yang diinginkan, semakin kesini aku menjadi berubah pikiran untuk ngga jadi milih-milih pekerjaan. Argh! Entahlah. Dipikir-pikir lama-lama jadi pusing juga.

Dan juga, semakin kesini kok aku malah berpikir untuk berkeinginan membuka usaha sendiri ya? Tapi, aku pusing juga karena aku ngga dapet ide sama sekali untuk memulainya. Terlebih lagi dengan modal yang ngga ada. Jadinya takut gagal mengeksekusi lah, takut ini lah, takut itu lah. Belum apa-apa udah takut duluan.

Begitulah kecemasan versiku. Aku berharap komentar kalian bisa membuatku, setidaknya bisa keluar dari fase ini. Aku ngga ingin berlama-lama terjebak di fase ini. Sudah puluhan artikel aku baca tentang semuanya, seperti cara agar semangat skripsi, gimana memulai bikin usaha, pengalaman bekerja, dan seterusnya. Tapi pada akhirnya? Aku masih tetap terpuruk.

Sekian.

About Isnanur Utami

Isnanur Utami
Recommended Posts × +

23 Komentar:

  1. Hay Isna, salam kenal ya:)

    Waah ternyata kita sama-sama semester akhir ya. Aku bisa merasakan bagaimana kecemasanmu itu.

    Ayoo semangat untuk melewati fase ini. Skripsi gak sesulit itu kok kalo udah dijalanin:)

    Gak usah terlalu jauh mikir ke depan juga kalo itu bikin kita makin terpuruk. Yg penting kita lakuin yg terbaik yg bisa kita lakuin sekarang.


    Ayoo semangat:)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Salam kenal juga :)

      Mau ngga mau, aku harus semangat. Kalo ngga semangat, malah ngga bakal selesai-selesai nantinya. Ini semua demi masa depan :)

      Delete
  2. Mungkin org tua km sibuk ya.. kurang ada waktu buat merhatiin bidang akademis km.. tapi gatau deng.. hehe
    Yg aku tangkep sih gitu.. soalnya bapak aku jga kya gtu.. bisanya cuma ngarahin.. tanpa mempedulikan bakat dan minat anak itu arahnya kmna..
    Tapi sudahlah.. ada baiknya skrg kita tinggal hadapi aja apa yg akan datang.. kalo kata org sih.. masa lalu biarlah masa lalu.. haha
    Skrg tugas kita berusaha agar masa depan kita bisa berjalan seperti apa yg kita inginkan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehe, cuma bapak aja yang sibuk kerja. Ibu masih di rumah. Entahlah.. Mungkin karena aku anak rumahan, yang ngga dibolehin kemana-mana, pada saat itu, jadinya ya seperti itu deh.

      Delete
  3. Gimana kak? Udah lega pastinya ya sudah menumpahkan segala kecemasannya selama ini di postingan ini?

    Yang pertama gini, orang tua itu memang ingin yang terbaik untuk anaknya, tapi terkadang mereka punya cara-cara tersendiri untuk membuat anaknya jadi sukses, yang terkadang tidak sejalan dengan keinginan anaknya. Aku juga terkadang mengalami itu kok. Mau ngelawan tapi kok takut, tapi kalau dijalani tapi kok ngggak sesuai dengan isi hati. Ujung-ujungnya ya aku tetap mengikuti apa arahan orang tua, karena yang aku yakin, ridho orang tua itu ridhonya Allah.

    Semenjak bergabung dengan BE kayaknya Kak Isna dapat banyak temen yaa. Bahkan yang kopdar Jatim kan juga ikutan dua kali yaa? Kita juga sempat ketemu toh kak pas kopdar dua kali tersebut hehe.

    Ayo semangat dong! KAn udah ada di tahap terakhir nih. Selesaikan apa yang sudah kamu mulai Kak. kalau patah semangat, ingat-ingat lagi usaha orang tua sampai bisa mengantarkan Kak ISna sampai sejauh itu, bisa sampai kulisah di semester akhir. perjuangan orang tua nggak gampang loh. Makanya ayo semangat buat nyelesaiin tugas akhirnya, biar bisa bikin orang tua bangga.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sedikit lega, Za. Hahaha, maafkan ya.. Postingan di blog ku kebanyakan curhatnya :D

      Iya Za, musti semangat. Target lulus Oktober tahun ini. Doakan yaa semoga lancar :)

      Delete
  4. sering merasa inscure sama diri sendiri gitu ya mi. gue juga sering kayak gitu. kayaknya wajar deh, karena setiap manusia bakal gitu.

    syukur tuh ikut organisasi berbasis islami. hhe semangat semester akhir mi ;)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, tapi mungkin aku terlalu berlebihan. Dipikir-pikir kayaknya ga baik juga. Boleh cemas, tapi jangan terlalu.

      Iya, harus semangaat! :D

      Delete
  5. Hai-hari Nur... Wah.. sudah lama sekali, ya. Pangeran gak mampir di sini. Terakhir kali kalo nggak salah........ Lupa nur. XD

    Materi ini semacam mengulik kecemasan dari apa yang berangkat dari dirimu, ya nur? Ya, terlihat banget begitu banyak kecemasa yang sedang dirimu alami. Pangeran seneng, tadi dirimu bisa semangat lagi setelah baca materi yg masih ada kaitannya sama materi ini.

    Mengenai Introvert, Pangeran juga sebenarnya begitu, Nur. Tapi, cara paling gampang ya mencoba aja dulu. Pernah Pangeran punya pengalaman kenalan sama cewek di Halte, malah endingnya dia ngerasa diikut. Hal lucu lainnya banyak, tapi Pangeran mencoba kenal gak sama yg muda saja, terkadang sama yang Dewasa, Kecuali ibu-ibu. Mereka agak parno gitu.. XD

    Ngomongin BE, kisahmu hampir sama dengan Pangeran. Dulu, kalo aja gak pernah ketemu BE, ya takin aja gak akan ada kenal dengan Nur, dan semua teman-teman yang keren di BE. Selalu semangat buat nulis ya Nur, karyamu bagus-bagus. :)

    Mengenai Dunia Skripsi, percayalah. Semuanya akan berlalu. Coba untuk tetep menikmati dan semangatnya terus diperbaiki. You can do'it Nur...

    Sekali lagi, jangan terlalu cemas, ya. Dikit aja boleh. Terlalu jangan. Nanti bg Haji ada saingan...

    Sebelum Pangeran pamit, mau ngasi saran, mending teks di postnya dibuat hitam aja Nur. Agak sakit bacanya kalo Soft Abu-abu gitu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. hehe terima kasih sarannya, Pangeran.. Sudah aku ganti warna font nya, kemaren mau ganti tapi sudah capek ngutak-atik kodenya, jadi baru sekarang bisa diganti.

      Maafkan ya pangeran kalo isi postingannya curhatan mulu, hehe. Iya, aku berusaha buat ngga terlalu cemas :)

      Delete
  6. semua orang pasti pernah merasa cemas. dari faktor yang memang krusial seperti ekonomi ataupun pendidikan, sampai kecemasan yang sering dilebih-lebihkan seperti di dalam dunia asmara. potensi yang ada didalam diri memang seharusnya dikembangkan, entah itu cuma sekedar menulis diary atau apapun. entah itu mendapat apresiasi dari orang tua atau tidak.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yang penting ngga terlalu berlebihan mencemaskan sesuatu, dan tetep semangat mengembangkan potensi yang ada di dalam diri. Apapun potensinya, semoga bisa membuktikan ke orang tua bahwa kita punya potensi yang bisa diandalkan.

      Delete
  7. Gue juga ngerasain kerasahan dalam hidup gue, setiap saat gue resah, yang ada dalam fikiran hanya bagaimana mencapai kesuksesan dengan cepat.

    Banyak sesuatu yang gue coba, apapun itu gue coba, terus cari dan mencari. Gini mbak kalo lu punya kegelisahan akan hidup, itu baru namanya anak muda, galau demi masa depan, tapi jangan terlalu difikir, ntar bakal ada kesempatan yang datang, intinya action, lakukan , lakukan, lakukan keep spirit mbak. Kita sama sama mengejar masa depan yg indah . Btw salam kenal :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Salam kenal juga :)

      Berarti semua orang pernah mengalami kegelisahan serupa ya.. Bener apa kata kamu, yang penting ngga berlebihan aja ^^

      Delete
  8. Menurut ku mungkin kamu saat ini ada dititik jenuh, biasanya rasanya emang kaya gitu. Aku juga pernah ngerasain kaya gitu, tapi aku buru-buru mencari penyamangat baru, dan ortu sama temenlah jawabannya. Temen ku juga ga banyak, tapi kita deket.

    Aku juga bingung sama masa depan aku nantinya, soalnya aku males bergabung sama organisasi2 yg kaya gitu.

    ReplyDelete
  9. waktu pas mau skripsi saya juga merasakan sebuah kecemasan, takut ga lulus, kalau ga bsa sidang gmn, dll, tapi seiring wkt. berjalan semua lancar2 aja.

    semoga lancr ya menghadapi skripsinya

    ReplyDelete
  10. Wah sama nih, aku juga dituntut buat masuk sekolah negeri. Cuma pas SMAnya aja yang gagal, orang tua sempet kecewa sih. Tapi ya gimana masa gak sekolah? Lagian di sekolahku sekarang banyak banget yang bisa dicapai.

    Sekarang sudah mau skripsi lo, artinya sebentar lagi mau selesai kuliahnya. Setelah kuliah bebas mau melakukan hal yang disuka, mau kerja, jadi pengusaha, aktif organisasi. Jadi sekarang semangat untuk menyelesaikan skripsinya.

    Salam kenal ya kak :)

    ReplyDelete
  11. Nah kadang gitu juga, keinginan orang tua tak sama dengan keinginan si anak. Kan kita punya potensi sendiri, yang kalo digali dapat tumbuh besar. Ini yang perlu diperhatikan orang tua, bukannya egois pengen seperti yang ia inginkan.

    Demi apa itu kak, kita sama banget, favorite belajar Bahasa inggris sama tik juga gue. Tapi yang paling itu ya bahasa inggris, seru gitu. Ya kita kalo udah asik, nyaman, dan seru untuk mempelajari salah satu ilmu, pasti akan masuk ke dalam otak. Tapi coba kalo sebaliknya? Bisa dibayangkan

    Dan juga, beberapa banyak yang beranggapan, pinter itu harus jago matematika, jago ngitung, dan juara olimpiade matematika. Loh? Bukannya mata pelajaran itu banyak? Gak hanya matematika saja, semua orang punya passion yang orang tersebut memiliki hak untuk memilih satu yang ingin ia kuasai. Tetapi ya begitulah indonesia. Stereotipe.

    Udah kak, jangan cemas lagi. Semua kecemasan pasti ada redanya, ada jalan keluarnya. Stay calm, keep spirit!!!

    ReplyDelete
  12. Kamu introvert? Ah yg bener na?
    Kecemasanku apa ya? Hm.. Aku sih let it flow orang. Aku sama kayak kamu, aku diarahin masuk sekolah negeri, sampai kuliah pun aku diarahin masuk sekolah yg *tiiitt*. Aku sih manut2 aja, segala sesuatu pasti ada baiknya. Cuman ada pertentangan pas kelas 2 SMA dan milih masuk jurusan. Aku sadar aku g mampu di mata pelajaran IPA, ulangan kimia, fisika, biologi selalu jeblok, dapet nilai nol pernah, aku bilang sama emak kalau aku g bakat di IPA jadi maklumilah anakmu. Untungnya emakku ngerti dan paham batas kemampuan anaknya dan menyetuji aku masuk jurusan IPS. Beda dengan bapak yg ngotot nyuruh masuk IPA, malah sempet bersitegang sama aku. Cuman kayaknya emakku bilang ke bapak kalau umurku bukan anak2 lagi dan aku sudah paham dimana batas kemampuanku, akhirnya bapak mencoba mengerti.

    Kuliah pun gitu, aku diarahin harus masuk di sekolah lanjutan "ini", awalnya aku nolak habis2an, aku maunya kuliah di tempat kuliah biasa. Tapi lama kelamaan aku juga mikir, g ada salahnya ngikutin kata ortu, mungkin g sesuai passion, cuman yg namanya hidup kalau pinginnya itu2 mulu bosen juga kan ya? Jadi aku coba aja, dan keterima. Pas kuliah, banyak dapet pengalaman yg g pernah bakal aku dapet kalau kuliah di universitas biasa. Dan semua itu berkesan!

    G usah cemas, lihatlah sesuatu dari sisi yg berbeda, kalau bawaanmu parno terus kamu g bakal bisa menikmati keindahan hidup. Biarkan hidup membawamu seperti menaiki roller coaster, ada senengnya, ada takutnya, ada histerisnya, dan hidupmu bakal asoy!

    ReplyDelete
  13. Aku pernah dan hampir sering ngerasain kayak kamu mbak -_-

    terlalu cemas akan sesuatu hal. Sebenernya sepele, misalnya ada tugas presentasi gitu, nah aku kadang H-2 gitu pasti cemas dan menimang-nimang 'ini kalau gagal gimana ya?' 'ini kalau aku nggak tau apa-apa waktu njelasin gimana ya'

    Walaupun pada akhirnya, setelah dijalani, semua nggak seperti yang kita cemaskan :'

    Sejauh ini pengen nerapin kalimat yang pernah dibilangin pandji : 'Salah itu biasa, bener itu biasa. Kalau salah jangan sedih banget. kalau bener janga songong amat'

    Tapi, yaa kecemasan itu nggak ilang begitu aja :'

    ReplyDelete
  14. Hallo, salam kenal ya.

    Btw, aku sedih waktu membaca tulisanmu yang bilang, kamu kehilangan semangat menyelesaikan skripsimu padahal kamu suka dunia tulis menulis. Sebab bagiku, memiliki passion di dunia menulis, nggak harus tentang fiksi, tapi juga tulisan ilmiah.

    Mungkin aku akan sedikit tega ngasih komen. Sebelumnya aku mohon maaf. Tapi kecemasanmu ini sangat nggak baik untuk dirimu juga masa depanmu. Walaupun introvert, kita bisa belajar untuk jadi introvert. Sementara peluang, kita yang datangkan dengan usaha keras. Masa lalu biarlah jadi masa lalu. Mungkin sebagai anak, kita merasa orangtua kita nggak mengerti kita. Tapi sebagai anak, kita sebaiknya juga menunjukkan perilaku agar dimengerti,dengan bicara, dan bantu mencarikan solusinya.

    Mudah-mudahan kita bisa belajar banyak dari masa lalu untuk menjadi diri kita yang lebih baik. Aamiin.

    ReplyDelete
  15. Eh kamu itu punya trek record bagus, ada juara2nya lah gue mah bener2 loser, tapi...... Gue ngggak mau ngeremehin diri sendiri dengan statment kalo gue ini loser lah, ga bisa apa2 lah.. Pokoknya gue harus tetep berjuang, tetap belajar jangan sampai gue berhenti karena negative thinking oleh pikirian gue sendiri..

    Karena semuanya berawal dari pikiran sih. Kalo pikiran kita positif dan diarahkan ke hal2 yg baik insaallah kita bisa kok ngapain ajah. Apalagi nylesain skripsi.

    ReplyDelete
  16. Maaf saya ga bisa beri solusi di sini...
    Apa yg kau alami juga aku alami...
    Nanti sya beri solusi mbak..

    ReplyDelete