latest Post

Teaching is the Best Job for Introvert

Aku pernah berfikir bahwa aku memilih pekerjaan yang salah. Aku pikir menjadi seorang guru adalah kesalahan terbesarku dalam memilih sebuah pekerjaan. Karena yang aku alami adalah begitu seringnya dan banyaknya perjuangan dan bahkan air mata yang sering kali membuatku merasa bahwa ini bukan pekerjaan yang aku inginkan.


Sebenernya memang aku tidak memiliki niatan untuk menjadi guru sedikitpun. Itu adalah bukan impianku yang sebenarnya. Impianku adalah aku bermimpi untuk bekerja di suatu perusahaan yang setiap harinya hanya berada di depan komputer tanpa sering berinteraksi dengan banyak orang. Seperti di Google, atau YouTube, mungkin? Haha, aku terlalu tinggi untuk berkhayal.


Aku adalah seorang Introvert yang kuliah di jurusan pendidikan bahasa Inggris. Yang pada akhirnya nanti bakalan jadi guru.


Apa?


Guru?


Bisa nggak sih kalo nggak jadi guru?


Aku sempat berfikiran seperti itu. Aku berusaha untuk mengelak menjadi guru. Aku berusaha untuk menghindari hal-hal yang berhubungan dengan guru, mengajar, dan anak-anak. Dan ternyata, pada akhirnya, ujung-ujungnya aku mengalami ini semua. Aku mengajar!


Pengalaman pertamaku mengajar adalah saat aku harus mengajar di salah satu taman yang ada di kotaku, dan aku mengajar anak jalanan atau anak yang biasanya ngamen di lampu merah deket taman. Belum berperang, aku merasa sudah kalah duluan. Aku tiba-tiba dengan sendirinya merasa lelah, padahal belum mulai mengajar. Aku lelah dengan pikiran-pikiran negatif yang menghantuiku sebelum aku mengajar disana, yang belum tentu apa yang aku pikirkan secara berlebihan ini memang benar-benar terjadi nantinya. Dan aku juga takut kalo apa yang sudah aku persiapkan dengan matang ini bakal melenceng dan nggak sesuai rencana.


Dari dulu aku memang ngga suka kalo apa yang sudah direncanain dengan matang tapi malah nggak kejadian atau mungkin terjadi tetapi melenceng jauh dari apa yang kita rencanakan. Dan, saat aku memulai untuk berbagi ilmu kepada  mereka, yang sebelumnya aku berpikiran negatif tentang mereka, yang tadinya aku berfikir bahwa dia nggak bisa diatur, ternyata hanya sedikit anak saja yang seperti itu (baca: bandel, nggak nurut, susah dibilangin). Untunglah yang lainnya pada nurut. Dan suaraku yang nggak keras dan nggak lantang inipun nggak menyurutkan semangatku untuk berbagi ilmu dan pengalaman dengan mereka karena ini bukan berada di kelas yang besar yang mengharuskanku untuk mengerahkan seluruh tenagaku untuk berbicara dengan sekeras-kerasnya. Kalo disini, di taman ini, aku hanya menyuruhnya duduk melingkar didekatku dan jaraknya pun nggak jauh-jauh amat. Jadi, suaraku masih menjangkau mereka.


Dan pengalaman keduaku mengajar adalah saat aku magang di satu sekolah SMP di Surabaya. Aku nggak bisa menghindari ini karena ini adalah salah satu syarat salah satu mata kuliah yang harus diselesaikan. Bayangkan betapa kerasnya kehidupanku saat aku magang. Dan ini selama 2 bulan! 2 bulan! Aku harus berangkat jam 5 agar sampai di sekolah jam 6, karena you know lah, Surabaya sekarang macet. Kalo nggak berangkat jam segitu malah kita telat sampe ke sekolahnya. Sebenernya masuk jam sekolahnya  jam setengah 7, tapi biar bisa ngasih kesan yang baik ke guru-guru yang ada disana, ya kalo bisa setengah jam sebelum di sekolah, kita sudah stand by. Itu kesepakatan dari kelompok kita sih.


Jauh-jauh hari aku sudah menyiapkan rencana-rencana utama dan rencana-rencana cadangan yang memungkinkan bakal ada kejadian yang nggak sesuai rencana bakal terjadi. Sebelum hari pertama mengajar tiba, aku sudah berekspektasi terlalu tinggi. Aku harus lancar di hari pertama. Rencana yang sudah aku susun harus sesuai target yang dicapai. Harus ini, harus itu.


Dan kenyataan yang terjadi? Phew, melenceng jauuh banget dari yang aku rencanakan. Rencana cadangan pun sampai nggak aku pakai karena aku juga sedikit gerogi, nervous, dan murid-muridnya yang aku dapet bener-bener super. Super bikin aku lelaaah tiap aku keluar dari kelas mereka. Pokoknya, setelah hari pertama itu aku alami, di hari-hari selanjutnya aku merasakan kelelahan yang begitu hebat, baik sebelum masuk kelas maupun sesudah kelas. Karena ya itu tadi. Sebelum masuk kelas, aku udah berpikiran yang nggak-nggak tentang mereka. Yang dikelas nanti bakal rame lah, yang suaraku ntar nggak bakal nyampe ke murid lah, yang nggak nurut lah, yang ini lah, yang itu lah. Macem-macem dah pokoknya. Begitu keluar kelas pun begitu. Aku merasakan kelelahan yang berlipat ganda karena apa yang aku takutkan benar-benar terjadi. Yang suaraku kurang keras lah, saat aku ngajar aku nggak dihiraukan lah, dan lain-lain. Berdasarkan pengalaman magangku selama 2 bulan itu, persentase keberhasilan saat mengajar sesuai rencana dan tidak rencana itu bedanya jauh banget dah pokoknya. Dari 100%, 20% sesuai harapan, dan sisanya ENGGAK SAMA SEKALI. Untung aku punya kelompok yang solid, yang baik, yang lucu, yang asik, yang bisa jadi moodbooster-ku saat aku merasa kelelahan.


Dan sekarang, saat-saat dimana aku berjuang untuk menyelesaikan skripsi, ternyata AKU MENGAJAR! Aku mengajar karena ada satu-dua orang tua murid yang itu tetanggaku sendiri, menginginkanku untuk memberikan les kepada anak-anaknya (baca: ngelesi). Aku nggak tau kenapa mereka memilihku. Padahal aku hanyalah anak rumahan yang jarang atau bahkan nggak pernah bersosialisasi dengan tetangga-tetangga. Mereka bisa melihat kemampuanku darimana? Padahal kemampuanku pas-pasan banget. Dan yang lebih parahnya, yang bikin aku lelah bukan hanya psikis, tapi juga fisik, aku harus ngelesi mereka semua mata pelajaran SD. Padahal, aku kan kuliah jurusan bahasa Inggris. Kenapa harus semua mata pelajaran? Karena aku juga memang butuh uang saku lebih sih, jadi aku mengiyakannya. Pengalaman yang didapet sih ada, tapi capeknya ini lhooo tiap hari, cyin.


Awal-awal sih biasa, cuma 2 murid aja. Tapi, setelah berjalan 6 bulan sekarang ini, aku harus ngelesi 12 anak yang semuanya bukan berasal dari kelas yang sama dan sekolah yang sama. Aku kesulitan membuat jadwal untuk mereka, aku kesulitan untuk membuat rencana pembelajaran (RPP) untuk mengajar mereka. Dan sampai sekarang aku masih merasa kesulitan untuk itu semua.


Mungkin masih belum  banyak pengalaman yang aku dapat selama ini. Hanya yang sekarang aku jalani ya yang udah berjalan 6 bulan ini. Tapi, meskipun pengalamanku masih sedikit, aku benar-benar merasakan perjuangan yang sering membuatku lelah, bahkan air mata ini sempat mengalir dengan deras ketika mengetahui bahwa anak-anak yang aku ajar itu susahnya minta ampun kalo dibilangin. Terutama untuk yang aku les-in sekarang ini.


Mereka memang berasal dari background keluarga yang berbeda-beda. Pendekatannya pun juga beda. Dan aku pusing dengan itu. Aku seperti memulai dari 0 untuk membuat dia nurut, untuk membuat dia faham, dan sejenisnya. Karena hampir di setiap mengajar selalu seperti itu yang terjadi. Bahkan tiap hari selalu merasakan kelelahan yang amat sangat hebat. 



Ada apa ya dengan mereka? Aku belum menemukan jawaban dari pertanyaan yang sampe saat ini masih aku pertanyakan ini. Apa aku harus menanyakan ini ke orang tua murid ya? Tapi, aku sungkan, dan aku nggak bisa memakai bahasa jawa alus untuk berkomunikasi. Masa aku harus pake bahasa Indonesia? Aku malah merasa kayak aku sok banget gitu ngomong sama tetangga pake bahasa Indonesia. Apa aku bikin pertemuan khusus buat orang tua gitu kali ya? Tapi ini kan cuma les kecil-kecilan, masa pake gituan sih? Kayak sekolah aja.



Aku adalah seorang Introvert yang menghabiskan hari-hariku untuk berinteraksi dengan 12 murid yang berasal dari kelas yang berbeda-beda, yaitu kelas 2 SD – 5 SD, dan kelas 7 SMP selama 6 bulan belakangan ini. Kegaduhan dan kekacau-balauan sering membuatku merasa kewalahan, bahkan sering membuatku begitu lelah, meskipun aku percaya bahwa hal-hal seperti itu memang diperlukan di dalam proses pembelajaran. Aku dengan susah payah untuk harus tahu semua mata pelajaran di semua tingkatan kelas yang udah aku sebutkan tadi. Aku juga harus bersusah payah untuk selalu ada buat mereka. Aku percaya kepada salah satu teori bahwa saat kita dekat dengan murid, murid juga akan dekat dengan kita. Kalo sudah begitu, kita nggak bakal susah buat nyuruh dia nurut.


Aku mencoba memposisikan diri lebih fleksibel, bisa jadi guru dan bisa jadi teman atau kakak buat mereka. Aku terkadang juga sering menyapa mereka saat mereka lagi main bareng di lapangan deket rumah. Tapi, kenyataan terkadang nggak sesuai teori yang aku dapatkan saat perkuliahan.


Aku sangat kesulitan untuk mengontrol mereka. Aku merasa nggak bisa untuk membuat mereka nurut. Bahkan sampe sekarang, di bulan ke 6 yang masih berjalan ini, aku masih kesulitan. Padahal aku juga ingin membuat dia jadi orang yang lebih baik. Aku juga pengen dia bisa mengasah kemampuan yang bener-bener dia ingin pelajari dan dia ingin ditekuni disini. Tapi, ekspektasi orang tua ternyata nggak sama dengan ekspektasiku.


Kalo ekspektasiku, saat aku ngelesi, aku nggak hanya membuat mereka paham dengan materi, tapi aku juga ingin mencari tahu apa yang dia suka, kemampuan apa yang dia miliki, dan bakat apa yang dia punya. Dan aku ingin itu semua untuk bisa diasah disini. Karena aku tahu, bahwa sekolah mereka menuntut si anak untuk dapat nilai bagus, baru diapresiasi oleh guru, bahkan temen-temennya. Aku bahkan sempat bilang kepada diriku bahwa sebisaku aku akan memfasilitasi mereka untuk mengasah apa yang ingin dia pelajari dan bakat apa yang dia punya disini.


Tapi, sungguh disayangkan saat orang tua malah berekspektasi kepada nilai, bukan kemampuan. Mereka berekspektasi bahwa setelah dia mengikuti les, nilainya harus lebih bagus. Dear parents, itu malah semakin membebaniku. Bahkan, aku sempat berfikir untuk berhenti ngelesi saat aku mengetahui nilai-nilai mereka saat rapotan semester ganjil kemarin ternyata nggak ada peningkatan, bahkan ada yang dibawah standar.


Apa aku salah teknik mengajar ya? Atau aku mungkin kurang tegas sama mereka? Pertanyaan-pertanyaan itu sering menghantuiku. Sumpah! Ini menjadi beban buatku. Aku malah sempat berfikiran kalo pas semester genap nanti, ketika pas rapotan semester si anak-anak ini nilainya nggak diatas KKM, aku akan memutuskan untuk berhenti ngelesi. Atau mungkin aku bertahan ngelesi tapi dengan anak-anak yang masih ingin les sama aku, yang pasti dengan persetujuan orang tua masing-masing murid. Kalo misalnya, si orang tua ada yang kecewa denganku karena nilai anaknya nggak bisa bagus, dan ingin keluar atau ingin les di tempat les yang lebih baik, dengan senang hati aku akan mempersilahkannya.


Aku juga sempat berfikiran bahwa mengajar itu bukan passion-ku, mengajar bukan pekerjaan yang aku inginkan, mengajar ini cuma sekedar menambah uang saku aja. Aku merasa aku nggak bisa melanjutkan ini semua. Malah ini menjadi beban buatku, meski ini menghasilkan uang. Yang itupun nggak sebanyak orang pekerja kantoran, sih. Beda jauh malah. Tapi aku mensyukurinya.


Iya, setelah berjalan selama 6 bulan ini, aku semakin bersyukur. Aku bersyukur bisa mengenal dunia anak-anak secara langsung. Bisa mengerti seluk beluk dunia anak-anak. Kadang mereka nyebelin, ngeselin, bandel, tapi kalo udah nurut, sehariii aja, aku bener-bener ngerasa bahagiaaaa banget. Mood mereka berubah begitu cepat. Sehari nurut, besok-besoknya udah pada bandel. Terkadang orang dewasa sepertiku susah untuk memahami mereka, bahkan orang tuanya sendiri. Tapi, setelah ditelusuri, ada beberapa hal yang membuatnya seperti itu. Mereka ternyata ingin diperhatikan.


Hal lain yang membuatku mensyukuri ini adalah aku berfikir bahwa pekerjaan ini adalah pekerjaan yang cocok untukku. Sebagai seorang Introvert, hal yang kita takutkan pertama kali adalah bersosialisasi. Apalagi bersosialisasi dengan orang seumuran atau lebih tua. Saat pertama kali mereka tau aku, pasti mereka menilaiku kalo aku ini arogan, nggak asik, super pendiem, dan omongan-omongan lain yang bikin aku jadi males untuk bersosialisasi.


Tapi, kalo untuk sekarang, aku malah merasa nyaman dan mudah untuk bersosialisasi dengan anak-anak. Terdengar aneh memang. Tapi dari situ, aku sekarang jadi ngga menemukan omongan-omongan atau selentingan-selentingan tentang penilaian buruk yang udah aku sebutin tadi.


Yang tadinya aku takut bersosialisasi, sekarang aku menjadi seorang yang lebih bisa positive thinking. Anak-anak bisa berbaur denganku, tanpa ada sekat yang menjadi jarak. Dan aku bisa berbaur dengan mudah. Yang seperti inilah yang sangat aku inginkan saat aku ingin bersosialisasi, saat ingin bertemu orang baru. Menemukan kenyamanan.


Hanya anak-anak inilah yang bisa memahamiku ketika orang seumuran bahkan orang yang lebih dewasa lebih sering menganggapku arogan, pendiam, dan sejenisnya. Tapi, dengan mereka, anak-anak, aku merasa jadi diriku sendiri. Mereka tidak pernah mengomentari kepribadianku yang sebenarnya bisa dibilang aneh ini. Itulah yang membuatku sadar bahwa mengajar adalah pekerjaan yang terbaik untukku.

About Isnanur Utami

Isnanur Utami
Recommended Posts × +

9 Komentar:

  1. teh Utami ceritanya seru banget asli.
    aku bacanya sambil menggelinjang.
    rasa-rasanya apa yang teh Utami alami sama persis kayak keadaanku.

    Btw aku juga masuk kuliah jurusan keguruan tapi aku ga mau jadi guru :(
    aku juga merasa kalo aku salah Jurusan. kesalahan yang membuatku sampe lulus S1 wqwq.

    Pengalaman pertama mengajarku pas PPL dulu,
    Memang benar teh semua rancangan yang udah aku persiapkan untuk mengajar kebanyakan melenceng.

    saat itu aku bener-bener dapet murid yang gadungan !
    aku capek teh.
    bahkan sampe sekarang aku trauma ngajar.
    intinya aku ga mau jadi guru. aku ga menemukan kenyamanan :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aku juga ngerasain sejenis trauma, terngiang-ngiang dengan suara berisiknya merema malah. Tapiii ya itu tadi. Aku lebih mudah berkomunikasi dengan murid daripada sama orang seumuran atau lebih tua. Hehe.

      Delete
  2. Saya belum pernah sih ngajar anak banyak, tapi ngajar adek saya aja saya udah nyerah. Mengajar emang capek, apalagi capek batin. Butuh kesabaran super extra deh pokoknya. Makanya saya gak mau jadi guru, yg ada muridnya saya omelin terus tiap saat :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Jujur kalau boleh memilih, aku lebih baik ngajar anak orang lain yang bukan saudara daripada harus ngajar adik sendiri. Kalo sama adik sih bisa-bisa berantem teruss

      Delete
  3. Sebenarnya aku juga mulai agak ragu dengan pekerjaanku yang sekarang, tapi aku berusaha bersyukur. Banyak teman yang belum dapat pekerjaan :'(
    Kalau si Introvert, hm... editor mungkin bisa jadi pilihan. Baca aja mulu. Diskusinya sesekali kalau ada yang kudu dibicarain sama penulis. hehehe

    Btw, tulisan kamu coba diperbaiki di pemisahan antar paragraf. Beri enter 2x supaya nggak rapat-rapat begitu. :) Dan satu paragraf jangan panjang-panjang ya... yang baca agak lelah... Tapi cara nyampainnya uda okee.. ^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pengen juga jadi editor tapi masih belum ada kesempatan untuk sampe terjun kesana.

      Terima kasih kritik dan sarannya. Aku nge-post ini pake aplikasi Blogger di hape. Sebenarnya sudah aku enter 2x, tapi pas di lihat di komputer ternyata tulisannya rapat-rapat begini. Maaf ya.. Jadi bikin mata lelah. Aku akan coba perbaiki lagi biar lebih baik tulisannya :)

      Delete
  4. Ini kayaknya curhatan dari semester 1 sampai sekarang ya ?. By the way ngomongin jadi guru. saya juga kuliah yang nanti lulus di peruntukan untuk jadi guru juga. sebenarnya juga pengen ngajarnya kayak di Google tadi hehe. Tapi saya tau kalau mau kesana butuh perjuangan yg gak main-main juga.

    Tapi makin kesininya makin sadar kalau jadi guru adalah pekerjaan yang hebat juga dan tentunya menyenangkan

    ReplyDelete
  5. Hai Isna, selamat ya telah memilih guru sbg job hahaha samalah kita
    awalnya juga ragu, lama2 nanti pasti bakal enjoy kok
    semangat

    ReplyDelete
  6. ahhhh ak juga pengen jadi guru, kalo bisa guru design web hhe :v

    ReplyDelete