Target Kecil di Tahun 2018

Jumat, 16 Februari 2018

Pagi ini, saat aku membuka laptop, aku ingin menuliskan cerita ini. Tulisan ini menceritakan tentang target-target kecilku yang sudah aku capai. Meski tidak terlalu tampak, tapi aku bangga bisa mencapainya. Dan inilah ceritaku.

Bertemu dengan orang baru dan berteman dengan mereka merupakan salah satu dari target hidupku di setiap tahunnya. Berada di sekeliling teman yang hebat itu ternyata berbeda ya rasanya. Aku jadi ikutan semangat juga untuk bermimpi, meski terdengar mustahil. Aku bersyukur banget, karena di awal tahun 2018 ini, aku menemui teman-teman baru yang punya mimpi besar dan terus optimis untuk mengejarnya. Satu target pun ter-checklist.

Di akhir tahun 2017 di bulan Desember kemarin, aku memutuskan untuk pergi ke Kampung Inggris, Pare hingga bulan Januari 2018. Niat awalnya cuma pengen menghilang sejenak dari rutinitas dan pertemuan dari orang-orang yang sama. Mungkin saat itu aku udah mulai bosan banget kali ya. Berbekal uang tabungan dari hasil aku ngelesi privat selama ini, aku berangkat seorang diri.

Aku ke Pare juga punya tujuan lain sih. Aku ingin memperdalam TOEFL atau IELTS. Mereka berdua ini sangat penting dan menjadi persyaratan yang wajib kalo mau kuliah ke luar negeri. Kalo TOEFL memang dari aku kuliah dulu (karena aku kuliah di jurusan bahasa Inggris) aku udah dapet ilmunya. Tapi kalo IELTS, jujur aku belum ada basic sama sekali. Aku aja cuma sekali ikut simulation test IELTS, yang hasilnya tau sendiri lah, ancur nilainya. Hehe. Jadi, pas aku daftar di salah satu lembaga yang ada di Kampung Inggris, aku memilih program IELTS.

Ternyata disana, aku harus menjalani placement test dulu untuk tau apakah aku bisa ikut program intensif IELTS atau aku harus ngulang dari basic dulu. Dan, hasilnya, skor IELTS ku cuma di skala 3. Jelek banget kan? Dari hasil itu, aku disaranin buat ambil program yang dasar dulu, tapi khusus yang buat IELTS. Karena di program intensif IELTS yang aku pilih, ternyata itu diperuntukkan untuk orang-orang yang udah punya ilmu dasar IELTS dan ingin melatih untuk mengerjakan soal-soal IELTS sampai dapet skor yang diinginkan.

Selama kurang lebih 1 bulan, aku berada di Pare. Disana aku memutuskan untuk tinggal di camp, sejenis asrama gitu yang mengharuskan untuk berbicara pake bahasa Inggris setiap waktu. Kalo enggak, bakal kena punishment dan punishment nya dalam bentuk denda. Jadi, kalo ngelanggar pake bahasa Indonesia, harus denda 500 rupiah per kata. Bayangin aja, di awal-awal, aku sering banget kedapetan ngomong bahasa Indonesia. Karena kurang terbiasa aja sih pake bahasa Inggris. Itu di minggu pertama. DI minggu-minggu selanjutnya, aku khilaf kok. Dan aku pake bahasa Inggris untuk ngobrol sehari-hari, meski terkadang lupa vocab nya, dan harus bilang how to say berkali-kali untuk nanya ke temen tentang kosa kata yang aku lupa bahasa Inggrisnya.

Di camp yang aku tempati penghuninya banyak banget. Dari 19 kamar yang rata-rata per kamar diisi 4 orang semua, berarti kurang lebih 76 orang yang tinggal di camp, mereka semua berasal dari daerah yang jauh-jauh. Ada sih yang satu kota sama aku, tapi bisa dihitung jari aja, cuma 2 orang aja. Yang lain, ada yang dari Jember, Probolinggo, Madura, Tegal, Bandung, Karawang, Mataram, Medan, Bontang, bahkan Papua. Pokoknya di camp ini, dari Sabang sampai Merauke ada semua. Yang sekamar sama aku aja dia berasal dari luar jawa semua, dari Sulawesi Barat sama Kalimantan Timur. Jadilah disana aku rindu sekali ngomong pake bahasa Jawa.

Di setiap program yang aku ambil pun aku bertemu dengan orang baru dan dari berbagai daerah yang berbeda-beda pula. Tujuan dan mimpi mereka sangatlah besar. Dan aku merasa, mereka sangat optimis dengan mimpi mereka masing-masing. Dari situlah, yang tadi aku orangnya pesimis banget dan takut duluan sebelum berperang, sedikit demi sedikit aku merubah mindset ku dan berusaha untuk memberanikan diri menuliskan beberapa mimpi besarku yang mungkin orang biasa akan meremehkan mimpi ini, karena bisa dibilang mustahil. Apakah mimpi-mimpi yang aku tulis dan ingin aku wujudkan di tahun 2018? Tunggu di postingan berikutnya ya.

Setelah aku pulang dari Pare, aku berusaha untuk menyelesaikan salah satu dari mimpiku di tahun 2018, yaitu wisuda. Pada saat itu, aku takut banget mau sidang skripsi di akhir Januari. Takut dibantai lah, takut ini lah, takut itu lah. Padahal skripsi yang aku buat ini ya aku sendiri yang bikin. Berarti kan aku seharusnya faham dong dengan apa yang aku tulis. Tapi ketakutan itu semakin membuatku ingin menyerah di awal. Padahal tinggal selangkah lagi menuju wisuda.

Di awal tahun ini juga, aku ingin ikut gabung jadi relawan. Kebetulan pas aku scroll feed instagramku, ada info tentang pembukaan untuk daftar ikut jadi bagian tim dalam suatu gerakan. Dan, Alhamdulillah, aku keterima. Disana aku bertemu dengan orang-orang baru yang keren-keren dan hebat-hebat. Nikmat Tuhan mana lagi yang kamu dustakan?

Tanggal sidang skripsi pun akhirnya datang. Di tanggal 31 Januari 2018, perang itu dimulai. Berbagai pemikiran positif pun harus aku paksakan masuk ke dalam pikiranku agar saat sidang, pikiranku bisa fokus untuk menyampaikan hasil penelitianku. Beberapa hari sebelum sidang pun aku selalu berdoa untuk diberikan kelancaran. Malah beberapa hari itu pula, keluargaku ditimpa masalah besar. Pikiranku sempat kacau kemana-mana. Bahkan di hari sebelum sidang pun aku nggak belajar, aku memasrahkan semuanya kepada sang maha Kuasa. Aku yakin Tuhan pasti menolongku, karena aku percaya akan hal itu.

Berkat doa, terutama doa dari Ibu dan Bapakku, aku bersyukur sekali karena pikiran-pikiran negatif yang sempat ada di pikiranku ternyata tidak terjadi. Semua berjalan lancar. Pertanyaan-pertanyaan dari dosen penguji pun bisa aku jawab. Alhamdulillah, keluar dari ruangan sidang, aku menampakkan senyuman lebar, pertanda aku senang dan lega karena semuanya berjalan sangat lancar. Dan aku yakin, ini berkat doa kedua orang tuaku yang terus beliau panjatkan di sela-sela kesibukan mereka.

Hasilnya, Alhamdulillah nilainya memuaskan. Aku tidak menduga sebelumnya bisa dapet nilai yang bagiku lumayan bagus. Meski nggak cumlaude, yang penting lulus. Karena aku sama sekali nggak ada target untuk lulus cumlaude. Karena aku sadar diri, aku nggak pinter dan nilai akademisku dari dulu memang biasa-biasa aja. Target kedua pun ter-checklist. Aku akan wisuda di tanggal 24 Februari 2018. Yeay!

0 Komentar:

Post a Comment