Aku Ingin Mengutarakan Sesuatu


23 Juni 2018

Masih teringat jelas di kepalaku. Saat kamu mengirim pesan untuk pertama kali. Dengan kalimat yang to the point dan membuatku menyimpulkan senyuman di bibir yang jarang aku lakukan ketika menatap layar handphone. Dari situlah kisah kita dimulai.

Kita menjadi dua orang manusia yang di setiap malam selalu bertukar kabar. Yang aku ingat, hanya sekali saja kita tidak bertukar kabar, saat aku merasa kurang enak badan pada saat itu. Hal apapun kita bahas, kita diskusikan. Dari situlah kenyamanan mulai muncul. Layaknya orang yang sedang jatuh cinta. Selalu tersenyum saat membaca pesan darimu. Dan ingin segera bertemu denganmu. Aku sempat heran. Aku sering merasakan kerinduan saat siang hari. Karena kesibukan kita masing-masing, kita hanya sempat bertukar pesan di malam hari. Setelah melakukan rutinitas yang melelahkan, yang aku lakukan adalah sesegera mungkin menanyakan kabarmu di hari itu. Aku sempat berfikir apakah kamu juga merasakan hal yang sama denganku?

Kamu tahu, sebenarnya aku adalah wanita yang sulit jatuh cinta. Karena aku sempat berfikir bahwa semua lelaki itu sama. Omong kosong. Mungkin karena sebelumnya aku pernah mengalami kekecewaan yang teramat sangat di masa lalu. Memang kejadian itu sudah lama terjadi, sekitar 2 tahun yang lalu. Aku sadar, saat itu aku masih kekanakan sekali. Dan juga masih labil. Egoku selalu aku kedepankan. Suka semaunya sendiri. Selalu ingin bersenang-senang. Padahal, sebenarnya bukan itu tujuan menjalin hubungan yang sesungguhnya.

Seiring berjalannya waktu, pola fikirku mulai berubah. Menjalin sebuah hubungan bukan hanya sekedar untuk bersenang-senang belaka. Tapi komitmen, keseriusan, dan saling percaya adalah kuncinya. Bukan hanya selalu ucapan gombal saja yang diutarakan, tapi niatan keseriusan juga harus ada. Aku merasa hina sekali. Yang aku pikirkan saat itu adalah yang penting punya pacar biar tidak terlihat jomblo. Betapa bodohnya aku, karena dibutakan oleh gombalan-gombalan cinta yang sebenarnya nggak ada artinya.

Tapi aku bersyukur. Sangat-sangat bersyukur. Bahwa Allah telah menghindarkan lelaki yang kurang baik di dalam kehidupanku. Dan mempertemukan dengan lelaki yang baik beberapa tahun kemudian, yaitu kamu. Apalagi kita berdua sudah direstui semesta, sudah mendapat restu dari kedua orang tua. Aku yakin, restu kedua orang tua juga restu dari Allah juga. Aku selalu menyematkan namamu dalam doaku. Semoga rasa cinta ini tetaplah tumbuh dan selalu terjaga. Meski setelah ini, kita tidak bisa bertemu untuk waktu yang lumayan lama. Kita sudah sama-sama dewasa. Sudah sama-sama bisa belajar dari kesalahan dan pengalaman masa lalu. Setidaknya, itu bisa menjadi modal kita agar tidak lagi mengulangi kesalahan yang sama.

Memang tidak ada sebutan bahwa kita ini pacaran. Tapi kita sama-sama memiliki niatan untuk lebih serius lagi kedepannya. Restu sudah kita kantongi. Yang terpenting adalah kita sama-sama memperbaiki diri lagi, dan terus belajar menjadi pribadi yang lebih baik lagi.

Bolehkah aku mengutarakan sesuatu, mas?

Aku mencintaimu, sangat-sangat mencintaimu, mas. Semenjak aku belum bertemu denganmu, rasa cinta ini sudah tumbuh dengan sendirinya. Aku merasa nyaman saat kita berdua saling sapa, bertukar kabar, dan mendiskusikan sesuatu. Meski hanya sebatas chatting saja. Dan setelah bertemu denganmu, rasa cinta ini semakin besar. Kamu tahu apa yang aku rasakan saat aku bertemu kamu pertama kali? Aku gugup setengah mati. Saat pertemuan pertama, bersama dengan kedua keluarga kita. Aku juga gerogi dan sedikit salah tingkah, karena aku tidak begitu banyak bicara di pertemuan itu. Tapi di dalam hati, aku senang akhirnya kita dipertemukan juga. Sering sekali aku menatapmu, tapi saat kamu menatapku balik, aku sesegera mungkin mengalihkan pandangan karena tersipu malu dan tidak ingin ketahuan olehmu bahwa aku mencuri-curi momen untuk menatapmu.

Awalnya aku merasa tidak percaya, apakah ini serius? Seringkali aku merasa bahwa ini adalah hanya mimpi belaka. Tapi ini benar terjadi. Karena semua ini berjalan sangat lancar dan cepat. Jika kamu bertanya sebab mengapa aku bisa jatuh cinta sama kamu, jujur aku bingung menjawabnya. Tapi setidaknya, dari lubuk hati yang paling dalam telah memberikan sinyal jatuh cinta.

Beberapa kali kita bertemu selama sebulan ini rasanya belum puas. Apalagi sebentar lagi kita akan terpisah oleh jarak, waktu, dan kesibukan masing-masing selama 6 bulan kedepan. Insya Allah, kita sama-sama sanggup menjalani LDR ini kan, mas? Aku sadar, aku bukan wanita sempurna. Aku masih punya banyak kekurangan yang harus aku perbaiki lagi. Aku mohon, tetap temani aku untuk jadi wanita yang lebih baik lagi.

0 Komentar:

Post a Comment