Aku Merindukannya


20 Juni 2018

Malam ini terasa berbeda dari sebelumnya. Gemericik air dari atas langit mulai mengguyur. Hujan sudah tiba. Sesekali suara rintikan hujan diiringi dengan bunyi petir yang terdengar dari ruang tidurku. Terasa lebih sejuk daripada biasanya. Apalagi ini hujan pertama setelah sekian lama tidak kunjung turun juga. Selamat datang, hujan..

Beberapa hari menjelang kembali ke rutinitas biasa, aku hanya ingin menikmati quality time-ku yang beberapa bulan ke belakang tidak pernah aku lakukan sama sekali. Beberapa diantaranya yaitu menghabiskan 3 bacaan novel yang aku tunda sebelumnya, yang genre-nya pas banget dengan suasana hati, dan juga mengisi tulisan di blog yang sudah lama tidak aku jamah. Aku seperti tidak memiliki waktu free hanya untuk sekedar membaca novel dan menulis. Yah, meski kebanyakan nulis curhatan sih. Tapi setidaknya, kedua kegiatan ini dapat membuatku semakin produktif dan juga dapat melatih otakku supaya ngga berhenti untuk berpikir dan berimajinasi. Sepertinya, aku harus bisa mengatur waktu agar rutinitas dan hobi dapat berjalan beriringan. Karena itu juga merupakan salah satu hiburan penghilang penat.

Hujan malam ini mengingatkanku dengan salah satu karya sastrawan terkenal yang berjudul Hujan Bulan Juni karya Sapardi Djoko Damono, karena hujan ini bertepatan dengan bulan Juni. Didalamnya berisikan beberapa puisi yang meski diksinya sederhana, namun memiliki sejuta makna. Aku teringat salah satu sajak yang, yah... seperti itulah yang aku rasakan sekarang.  

Tak ada yang lebih tabah dari hujan bulan Juni
Dirahasiakannya rintik rindunya kepada pohon berbunga itu
Aku mencintaimu dengan sederhana

Mungkin beberapa orang akan mengartikannya berbeda-beda, tergantung dari imaji personal pembaca. Lalu apa hubungannya antara puisi tersebut dengan apa yang aku rasakan sekarang? Mari aku ceritakan.

Jujur, aku tidak pernah mengalami hal yang seperti ini sebelumnya. Dan tak pernah terpikirkan sebelumnya jika hal ini akan terjadi di dalam hidupku. Merasakan hal yang sungguh diluar dugaan. Seringkali mencoba mencubit diri sendiri karena tidak yakin jika ini bukanlah mimpi, tapi ini nyata benar terjadi.

Berawal dari sebuah chat yang membuatku senyum-senyum sendiri saat aku membacanya. Saat itu otakku sedang kacau-kacaunya memikirkan Grammar yang selalu salah saat menganalisis kalimat. Seorang lelaki tiba-tiba memulai perkenalan lewat chat, yang aku tidak tahu sama sekali tentang dia, mencoba untuk mengenaliku lebih jauh. Apa yang ada dipikiranku saat itu? Aku merasa ini aneh, tapi ini nyata. Aku tidak tahu dia ini yang mana, dan mungkin dia juga tidak tahu aku ini yang mana. Tapi aku mencoba untuk membuka diri, dan membuka hati untuk juga ingin mengenalinya lebih jauh, sama seperti dia yang juga ingin mengenaliku lebih jauh.

Kita memang terpisah jarak pada saat itu, dan memiliki kesibukan masing-masing. Tapi setiap hari kita selalu bertukar kabar. Lambat laun, aku merasa nyaman dengannya. Meski belum bertemu sama sekali, meskipun juga hanya berkomunikasi melalui Whatsapp. Namun rasa itu perlahan muncul. Membuatku tidak ingin melewatkan seharipun untuk berkomunikasi dengannya. Membuatku ingin segera bertemu dengannya. Dan ya, saat itu, hujan datang di sore hari, tapi tidak di bulan Juni. Saat itu, aku hanya berbaring diatas kasur sembari menatap langit-langit kamar, merasakan hal yang aneh yang sudah lama tidak aku rasakan sebelumnya. Meski belum pernah bertemu sebelumnya, tapi aku merasakan rindu yang amat sangat. Ya, aku rindu dia. Menanti malam terasa begitu lama, waktu berjalan begitu lambat, tidak seperti biasanya. Hanya demi menunggu chat darinya. Agak berlebihan memang, tapi itulah yang aku rasakan pada saat itu. Apakah ini yang namanya cinta yang sesungguhnya? Yah, seperti itulah seorang wanita yang sedang jatuh cinta.

Dan saat dimana kita ditakdirkan untuk bertemu, apa yang aku rasakan lebih dari apa yang aku rasakan sebelumnya. Aku ingin mengatakan kepadanya, bahwa aku suka dia. Aku jatuh cinta dengannya. Tapi aku belum pernah mengatakannya, sampai sekarang. Tapi tak apa, cinta hanya butuh bukti, bukan hanya sekedar ucapan belaka.

Mungkin aku masih belum bisa menjadi apa yang dia inginkan, namun aku mencoba untuk mencintainya secara sederhana. Mencoba untuk memahami kesibukannya, memberikan dukungan dan perhatian kepadanya, serta memberikan kepercayaan penuh kepadanya. Jujur saja, aku masih belum pandai dalam banyak hal, tetapi suatu saat nanti aku akan membuktikannya.

Hujan deras yang turun malam ini, semakin menambah kerinduanku padanya. Entah dengan cara apa agar rindu ini dapat teratasi. Meski kita telah bertemu, tetap saja rindu. Tak usah heran. Lagi-lagi, beginilah jika wanita sedang jatuh cinta. Terkadang kelakuannya sulit ditebak. Dan aku berharap, rasa ini tetap tumbuh setiap saat. Meski mencintainya dengan sederhana, namun rasa ini tetap luar biasa.

0 Komentar:

Post a Comment